Rumah Impian
Aku menemukan
foto rumah itu secara tidak sengaja di Facebook. Entah kenapa, dari sekian
banyak rumah yang lewat di beranda, rumah itulah yang membuatku berhenti
menggulir layar. Bukan rumah besar dengan desain megah, tapi ada rasa hangat
yang sulit dijelaskan. Sejak saat itu, aku membayangkan membangun rumah
impianku sendiri—rumah yang tidak perlu luas, yang penting nyaman. Di bagian
depan, ada sedikit ruang untuk taman kecil, tempat beberapa tanaman tumbuh dan
menyambut setiap kepulangan. Di sebelah kiri, sebuah garasi sederhana, cukup
untuk satu mobil dan motor, tanpa kesan berlebihan.
Masuk ke dalam
rumah, ada ruang tamu yang langsung terasa hidup. Di sampingnya kamar tidur,
tak jauh dari sana kamar mandi, lalu area laundry yang fungsional. Semuanya
tertata berurutan, sederhana, dan mudah dijangkau. Namun bagian favoritku ada
di tengah rumah—sebuah taman di dalam rumah yang berhadapan langsung dengan
ruang tamu. Ada replika tebing kecil dengan air yang mengalir pelan, suara
gemericiknya menenangkan, dan beberapa ikan berenang santai di kolamnya. Di
atas rumput sintetis, aku membayangkan meja-meja kecil dengan big bean
triangle, tempat duduk santai untuk membaca, minum teh, atau sekadar diam
menikmati hari. Dari ruang tamu tanpa sekat, di sebelah kiri ada dapur yang
juga menghadap taman itu, membuat aktivitas memasak terasa lebih hangat dan
hidup. Aku butuh rumah. Rumah yang nyaman. Rumah yang tenang. Tempat pulang dan
beristirahat ketika penat dari luar terlalu ramai.
Untuk saat ini,
aku ingin sendiri. Bukan karena aku tidak ingin menikah—justru aku sangat
ingin. Tapi aku tidak ingin menikah hanya sebagai pelarian dari kondisiku yang
belum stabil. Aku ingin menikah karena aku siap. Aku ingin menikah dengannya,
karena aku percaya, merasa nyaman, dan yakin bahwa dialah yang aku ingin dan
butuhkan. Seseorang yang bisa menjaga kepercayaan dan menjadi imam terbaik
untukku. Pasti dia punya kekurangan, sama sepertiku. Tapi aku percaya, kami
bisa saling belajar, saling memperbaiki, dan bertumbuh bersama.
Sebelum semua
itu hadir, jika bisa, aku ingin menemukan diriku sendiri yang telah
selesai—diriku dengan versi terbaikku. Namun jika aku belum sepenuhnya sampai
di titik itu, harapanku bersamanya aku bisa dibimbing dan dibantu untuk sembuh,
meski aku sadar bahwa sembuh adalah tanggung jawabku sendiri. Untuk saat ini,
aku hanya butuh jarak. Butuh sedikit jeda. Butuh ruang untuk tenang.
Komentar
Posting Komentar